Sabtu, 29 Oktober 2011

7. PONDOK PESANTREN MANBAUL ULUM AL BARKATI Desa Bajayau Tengah Kec. Daha Barat

PIMPINAN
H.MAR’I

A.     Sejarah Berdirinya

Pondok Pesantren Manbaul Ulum awalnya didirikan oleh Pengasuh Kyai H. Taberi Arifin dan dari Pemuka Agama dan Tokoh masyarakat Desa Bajayau Tengah dengan dana Pengasuh dan swadaya masyarakat.
Maka berdirilah Pondok Pesantren Manbaul Ulum  pada tahun  1994 . Dan sekarang Pengasuh Pondok Pesantren yang pertama sudah meninggal dan diteruskan oleh KH. Mar'ii yang lulusan Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Dalam perjalanan Pondok Pesantren Manbaul Ulum sering mengalami gendala, namun hal itu tidak menyurutkan Pengasuh dan semua Ustadz pendiri Pondok Pesantren Manbaul Ulum untuk terus berjuang dan melanjutkan kemajuan Pondok Pesantren tanpa mengenal lelah.

B. VISI DAN MISI PONDOK PESANTREN MANBAUL ULUM  :
Menjadikan anak-anak yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

C.     SARANA DAN PRASARANA  :
Tempat belajar lebar 9 meter,  panjang 50 meter, terdiri dari enam ruangan / kelas, ditambah satu ruangan tempat ibadah dan satu ruangan kantor dan satu perpustakaan.

D.     DATA SANTRI DAN GURU / USTADZ  :


Tingkat
Data Santri
Data Guru / Ustadz

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Ula

44

52

96

3

2

5

Wustha

19

23

42

2

3

5

Jumlah

63

75

138

5

5

10


E.     SISTEM DAN JENJANG  :

Sistem Pendidikan yang dipakai Pondok Pesantren Manbaul Ulum mengikuti kurikulum Pondok Pesantren Al-Muradiyah dan Pondok Pesantren Darussalam Martapura Tingkat Ula dan Wustha.

Kamis, 27 Oktober 2011

6. PONDOK PESANTREN TAHFIZHUL QURAN AD DAHLANIYAH Desa Tambak Bitin Kec Daha Utara

PIMPINAN
KH. M. ABDUL MUJIB

A. Sejarah berdirinya
Kota Negara zaman Belanda adalah sebuah kewedanaan dan sekarang termasuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kota Negara yang disebut juga Daha merupakan kota tertua di Kalimantan Selatan, bahkan lebih tua dari Banjarmasin. Wilayah Daha yang terkenal dengan sungainya yang memanjang dari Amuntai hingga Barito Kuala ini sekarang terbagi dalam tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara dan Daha Barat.
Kota Negara dahulunya dikenal sebagai lumbung ulama. Masyarakat Kalsel dari kalangan cendekiawan belum merasa puas bila belum pernah belajar Kitab Kuning dengan metode kaji duduk ke ulama di Negara.
Tokoh-tokoh ulama Negara memang bukanlah sekadar dikenal kepakaran dalam keilmuan tetapi masyarakatnya pun amat mendukung dengan mengamalkan segala petunjuk dan nasihat para ulama. Tak heran, ketika seorang guru besar di masjidil Haram Makkah pernah berkunjung ke Negara, dia terheran-heran dengan cara berpakaian orang Negara yang teramat Islami terutama kalangan perempuan yang selalu menutup aurat. Secara spontan syekh besar tersebut berucap, bahwa kota Negara adalah Serambi Makkah.
Pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Negara tidak terlepas dari peran para ulama yang semuanya adalah alumni Makkah. Mereka gigih mengajarkan Ilmu-ilmu Agama di langgar-langgar dekat rumahnya sehingga dikenal ada langgar Tuan Guru Haji Mukhtar, langgar Tuan Guru Haji Ali, langgar Tuan Guru H. Muhammad  Yasin dan banyak langgar lainnya. Masing-masing ulama memiliki kelebihan tersendiri. Ada yang menonjol di bidang Ilmu falak, ada pula yang menonjol di bidang Ilmu Nahwu dan di antaranya juga ada yang menonjol di bidang Qiraatul Qur’an seperti Tuan Guru Haji Muhammad Yusuf di Pakan Dalam.
Sayang sekali, nuansa keilmuan di kota Negara saat ini sudah menurun jauh dibanding di permulaan abad kedua puluh ketika ulama Negara bertebaran bagai bintang di langit. Kehadiran Ponpes Tahfizhul Qur’an Ad Dahlaniyah yang mengkhususkan diri pada Bidang Tahfizh, diharapkan dapat membuka kesadaran masyarakat Daha untuk perlunya regenerasi keilmuan, paling tidak dapat menekan pengaruh negatif akibat masuknya arus globalisasi

B.   Visi dan misi
Ponpes TQ Ad Dahlaniyah, memiliki visi :
Menjadikan masyarakat Daha cinta Alquran, mengamalkan ajarannya dan mengembalikan nuansa keagamaan tumbuh kembali di masyarakat Daha seperti masa permulaan abad XX.

Adapun misi yang dikembangkan, antara lain:
  1. Mendorong keluarga di kalangan masyarakat Daha untuk belajar menghafal Alquran
  2. Menyelenggarakan pendidikan yang mengkhususkan diri pada menghafal Alquran.
  3. Menyelenggakan kajian-kajian Alquran
  4. Menyelenggarakan dan mendorong tumbuh dan berkembangnya TK Alquran di masyarakat

C.     Sistem dan Jenjang Pendidikan
Di Ponpes TQ Alquran Ad Dahlaniyah tidak diselenggarakan Wajar Dikdas 9 tahun maupun paket C. Walau demikian, santri diperkenankan sambil belajar atau mengikuti paket C pada pondok lain yang menyelenggarakan paket C.
Di pondok sini siswa yang belajar hanya khusus menghafal Alquran dan tidak ada penjenjangan. Input santri juga beragam, ada yang dari tamat SD/MI hingga yang sudah tamat SLTA. Para santri hanya dikelompokkan pada seberapa banyak sudah menghafal Alquran.
D.   Data Kependidikan
NO
SANTRI
USTADZ
L
P
1
73
7
8
JUMLAH
80
8

E.   Sarana dan Prasarana
Di Ponpes TQ Ad Dahlaniyah tidak mengenal adanya ruang kelas. Di sini yang tersedia hanya ruang tempat tidur, WC dan  Ruang Utama yang berfungsi sebagai aula dan sekaligus sebagai tempat pembelajaran (setor hafalan) dan berbagai kegiatan lainnya. Di ruang utama ini pada siang dan sore hari diselenggarakan pendidikan TK Alquran. 
Di pondok ini juga tersedia sebuah ruangan yang menyimpan banyak buku-buku keagamaan. Santri setiap saat bisa memanfaatkan waktu untuk membacanya. Di depan pondok ini terdapat sebuah mushalla yang cukup megah, dimanfaatkan untuk santri shalat berjamaah lima waktu bersama-sama dengan masyarakat sekitarnya.




F.    Bidang Usaha dan Sumber Keuangan
Sumber pendapatan pondok dari sumbangan para donator, baik yang ada di wilayah Daha dan sekitarnya, maupun dari Makkah, Saudi Arabia, dari keluarga Ad Dahlaniyyah yang merupakan pendiri/pewakaf tanah Ponpes Ad Dahlaniyah.
Di pondok ini juga tersedia warung yang menjual keperluan sehari-hari, untuk keperluan santri maupun masyarakat sekitar. Selain itu, juga ada menyewakan beberapa rumah sewa yang terletak di Landasan Ulin Banjarbaru.
Di pondok ini juga menerima bantuan dari berbagai pihak selama tidak mengikat, termasuk bantuan dari Pemerintah Daerah baik dari Kabupaten, Provinsi maupun Pusat.

Rabu, 26 Oktober 2011

5. PONDOK PESANTREN AL IRSYAD Desa Muning Baru Kec. Daha Selatan


PIMPINAN
M. SUBELI ARSYAD, BA

A.   Sejarah Berdirinya
Berawal dari Majelis Ta’lim yang didirikan oleh ayahda Saberi bin Said pada tahun 1954 dengan mengambil tempat di Mushalla Darul Muttaqin di atas tanah wakaf Saberi bin Said seluas 80 M2 . Dalam perkembangan berikutnya didirikan pengajian dakwah Islam khusus untuk remaja (putera/puteri) oleh Subeli Arsyad bin Saberi diberi nama Sabilal Muttaqin menempati gedung SDN yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong pada tahun 1971
Selanjutnya bersama masyarakat membangun gedung MDA (Madrasah Diniah Awaliyah ) di atas tanah wakaf orang tua Saberi bin Said seluas 900 M2 khusus anak-anak usia SD belajar sore hari. Kemudian MDA berkembang menjadi MI (Madrasah Ibtidaiyah) belajar pagi hari.
Untuk melengkapi sarana pendidikan Islam ini pada tahun 1979 mushalla Darul Muttaqinyang berukuran 6  x  8 m  dibongkar dan ditingkatkan statusnya menjadi mesjid dengan ukuran 10  x  12 m dinamai sesuai dengan pengajian Dakwah Islam yaitu Sabilal Muttaqin.
Keberadaan Mesjid Sabilal Muttaqin, selain difungsikan untuk shalat berjamaah 5 (lima) waktu dan shalat Jum’at, juga difungsikan untuk tempat pengajian, kuliah Subuh dan Magrib, dan peringatan Hari Besar Islam.
Untuk melengkapi sarana pendidikan Islam ini didirikan Pondok Pesantren tahun 1990. Dan pada tahun 1999 dibuka Madrasah Diniyah Ulya (MDU)

B.   Visi dan Misi
1.      Visi  :Mewujudkan peserta didik  yang berakhlak mulia, berkepribadian dan berilmu.
2.      Misi :
a.    Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
b.    Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pada bidang Imtak dan Iptek melalui pengalaman langsung sesuai dengan minat dan bakat peserta didik.
c.    Menumbuhkan minat baca dan menulis peserta didik untuk mengembangkan daya nalarnya
d.    Menciptakan budaya disiplin peserta didik dalam belajar dan bekerja.
e.    Menumbuhkan budaya bersaing yang sehat bagi peserta didik untuk berprestasi.




C.   Sistem dan Jenjang Pendidikan
Sistem pendidikan yang dipergunakan adalah sistem klasikal dengan kurikulum pondok pesantren dan KTSP
1.      Pendidikan Sekolah
Jenjang pendidikan sekolah yang diselenggarakan di lingkungan Pondok Pesantren Al  Irsyad adalah tingkat dasar dan menengah berada dibawah naungan Kementerian Agama : MI dan MTs. Kedua jenjang pendidikan tersebut menggunakan kurikulum Kementerian Agama atau KTSP

2.      Pendidikan Pesantren
Pondok Pesantren Al Irsyad selain menyelenggarakan pendidikan sekolah juga menyelenggarakan pendidikan kepesantrenan, pengajian salafiah (baca Kitab Kuning).

D.   Data Kependidikan
Data Santri
NO
MI
MTs
L
P
L
P
1
54
54
27
43
JLH
108
70

Data Guru
No.
NAMA  USTADZ
No.
NAMA  USTADZAH
1.
Subeli Arsyad, BA
1.
Dra. Hj. Faridah
2.
H. Abdul Hasan
2.
Nurjanah, S.Ag
3.
H. Bakeran
3.
Bariah, S.Pd.I
4.
H. M. Ideris
4.
Hamdanah
5.
H. Yahya, S.Pd
5.
Indri Indah Lestari, S.Pd.I
6.
Bahrani, S.Pd.I
6.
Hernawati, S.Pd
7.
Nasrullah, S.H.I
7.
Marlina
8.
Gusriadi
8.
Jubaidah
9.
M. Noor Hadi, S.Pd.I


10.
Syamsuddin, A.Ma




E.   Sarana dan Prasarana
Untuk belajar kegiatan belajar, mengaji dan tata usaha. Pondok Pesantren Al-Irsyad memiliki sarana dan prasarana berupa: 9 ruang belajar, sebuah ruang kepala dan tata usaha, sebuah ruang dewan guru, satu unit asrama santri dan tiga buah rumah guru/ustadz. Serta dua buah fasilitas MCK.
F.    Sumber Dana dan Usaha Ekonomi
Untuk pembiayaan seluruh kegiatan operasional, Pondok Pesantren Al-Irsyad mengandalkan dana SPP/Infaq rutin bulanan, donator, warung koperasi dan infak kaum muslimin

Selasa, 25 Oktober 2011

4. PONDOK PESANTREN DARUL ULUM Desa Amawang Kiri Kec. Kandangan

PIMPINAN
KH. M. DHIAUDDIN, Lc
 
A.   Sejarah Berdirinya
Pada tahun 1986 di kota Kandangan belum ada berdiri Pondok Pesantren maka atas keinginan masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke luar kota seperti ke Martapura dan lain-lain, maka Yayasan Darul Ulum yang waktu itu diketuai oleh KH. Abu Hurairah dan Tokoh Agama seperti KH. Abdul Aziz, H.Rriduan, H. Mu’in giat mengumpulkan dana untuk pembangunan lokal belajar serta hibah tanah dari masyarakat salah satu warga Amawang, maka pada tahun 1986 berdirilah Pondok Pesantren Darul Ulum dibawah Yayasan Darul Ulum Kandangan.
Adapun pimpinan atau pengasuh pondok mulai berdiri sampai sekarang sebagai berikut:
Pimpinan pondok periode 1. H. Asnawi Syihabuddin, Lc (1986-1997)
Pimpinan pondok periode 2. H. Khairiyadi Dachyar, Lc (1997-2004)
Pimpinan pondok periode 3. KH. M. Dhiauddin, Lc (2004-sekarang)

B.   Visi dan Misi
Visi :  Terwujudnya pendidikan yang mengedepankan akhlak santri dan pengetahuan yang mendalam tentang Ilmu-Ilmu ke-Islaman.
Misi: Membentuk sumber daya manusia yang ber-Ilmu Agama, berakhlak mulia dan bermanfaat ditengah-tengah masyarakat.

C.   Sistem dan jenjang Pendidikan
Sistem pendidikan yang digunakan adalah Sistem Salafiyah dengan lama pendidikan minimal 9 tahun dengan jenjang pendidikan Tingkat Ula, Wustha dan Ulya yang masing-masing ditempuh selama 3 tahun. Waktu pembelajaran dari pagi sampai siang hari (Shalat Dzuhur).
Disamping itu pula ada menyelenggarakan Wajar Dikdas Tingkat Wustha dengan waktu pembelajaran dari sore sampai malam hari.

D.   Data kependidikan
a.       Data Guru/Ustadz
NO
NAMA USTADZ
TTL
ALAMAT
TMT
PELAJARAN
1
KH. Dhiauddin, Lc
Kandangan, 10-06-1961
Amawang Kiri Muka
1989
Nahu, Tasauf, tarikh
2
KH. Marzuki Ismail. HB
Panjampang, 17-12-1965
Panjampang bahagia
1988
Faraid, Ushul fiqh, Ushul Hadis
3
M. Syarkawi
Sei.Kudung,02-03-1961
Sei. Kudung
1996
Tauhid, Sharaf
4
Sugiansyah
Tapin, 06-04-1970
Amawang Kiri Muka
1990
Fiqh, Nahu, Tasauf
5
M. Sayuti
Patigan, 02-02-1973
Baluti
1992
Nahu, Sharaf
NO
NAMA USTADZ
TTL
ALAMAT
TMT
PELAJARAN
6
Fathurrahman
Jambu, 05-08-1967
Amawang Kiri Muka
1994
Fiqh, Bahasa Arab
7
M. Rijani
Karasikan, 13-04-1972
Baluti
1992
Fiqh, akhlaq
8
Bahruddin
Lumpangi, 05-06-1976
Amawang Kiri Muka
1992
Nahu, Tauhid
9
M. Amin Siddiq
Bamban, 16-10-1976
Amawang Kiri Muka
1998
Nahu, sharaf
10
Suksisal Mahdi
Bamban, 09-04-1977
Amawang Kiri Muka
1998
Nahu, Sharaf
11
Hendro Mulyo
Barabai, 09-08-1972
Amawang Kiri Muka
1997
Khat, tajwid, fiqh
12
H.M.Zaki Mubarak, Lc,M.Ag
Angkinang, 09-10-1984
Amawang Kiri Muka
2007
Hadist, Tafsir
13
M. Fahriannor
Dangu, 08-09-1979
Pandai Tengah
2005
Tauhid
14
Hasami Efendi
Kandangan, 20-04-1978
Amawang Kiri Muka
2005
Al-qur’an, Fiqh
15
Ahmad Huzaifah
Asam Cangkok, 09-07-1987
Amawang Kiri Muka
2007
Al-Qur’an

b.      Data Santri
NO
KELAS
ULA
WUSTHA
JUMLAH
1
I
18 orang
16 orang
34 oranh
2
II
15 orang
16 orang
31 orang
3
III
13 orang
20 orang
33 orang
JUMLAH
46 orang
52 orang
98 orang

E.   Sarana dan Prasarana
1.                                                                                                         Tempat pembelajaran/kelas     : 9 lokal
2.                                                                                                         Tempat ibadah/mushalla          : 1 buah
3.                                                                                                         Kamar santri/asrama   : 2 lokal
4.                                                                                                         R. guru dan Perpustakaan        : 1 buah

F.    Bidang Usaha
1.      Koperasi
2.      Pertanian/perkebunan kelapa