Sabtu, 13 Agustus 2011

PUASA DI NEGARA

Aroma pesantren kental terasa bila kita masuk Negara di bulan Romadhon. Sebenarnya setengah bulan sebelum Romadhon tiba aroma itu sudah terasa, bila nisfu sa'ban atau tanggal 15 bulan sa'ban masyarakat Negara berduyun duyun ke tempat ibadah, baik masjid maupun mushalla terdekat.Setelah shalat magrib dilanjutkan dengan shalat sunnat hajat lalu membaca yaasin 3 kali. Ada juga yang ditambah dengan ceramah seputar bulan sa'ban. Satu hal keyakinan masyarakat Negara yang kuat mereka membawa air dan makanan ringan ke tempat tempat ibadah itu. Mereka yakin aura doa bersama di malam itu dapat menyatu dengan air sehingga bila airnya diminum akan membawa keberkahan sendiri, terutama untuk tolk balak.
Bila di Jawa dikenal dengan istilah megengan yaitu membagi makanan ringan ke tetangga sebagai wujut kegembiraan menyambut bulan Ramadhon, nah masyarakat Negara lebih terfokus pada acara bersih bersih rumah. Hampir setiap rumah dan pagar dibersihkan bahkan disikat sampai atap atapya.
Bila Romadhon tiba maka setiap tempat ibadah akan penuh bahkan panitia harus bekerja keras karena harus menambah tempat dadurat untuk menampung jamaah yang tidak bisa masuk ke dalam untuk melaksanakan shalat tarawih. Shalat tarawih di Negara hampir seragam tata caranya, juga jumlah rakaatnya umumnya 20 rakaat 2 rakaat salam dan ditutup dengan witir 3 rakaat yaitu 2 rakaat salam ditambah satu rakaat. Bacaannya juga seragam yaitu mulai Attakastur sampai annas rakaat keduanya al ikhlas itu bila hari pertama sampai hari ke 15, untuk hari ke 15 hingga selesai bacaannya rakaat pertama al qadr baru rakaat ke dua surat attakasur hingga annas, dengan catatan witir terakhir membaca alfatihah empat. Bila hari ke 15 dan seterusnya ditambah doa qunut. Tempat favorit untuk shalat tarawih di Negara adalah Masjid Ibrahim dan Masjid Al Ihya Habirau.
Bila shalat telah usai dilanjutkan dengan tadarus, umumnya satu malam satu jus sehingga dalam sebulan bisa khatam. Tapi ada juga yang tadarus setelah shalat subuh, bedanya kalau yang malam jamaah membaca secara bergantian, tapi bila yang habis shalat subuh biasanya guru membaca dengan micrifon diikuti para jamaah.
Bila pagi telah tiba kota menjadi sepi laksana kota mati selama bulan puasa. Aktifitas akan segera dimulai ketika menjelang pukul sepuluh pagi, perdagangan mulai bergerak dan puncaknya menjelang buka puasa yang tercentralkan di depan pelabuhan kota, terutama pedagang jajanan buka puasa.
Tahun ini masyarakat bisa sedikit tersenyum karena para petani bisa betanam lagi, setelah dua tahun mereka tidak bisa behuma (betanam di sawah) karena lahannya terendam air banjir. Buah semangka membanjir, juga blungka batu dan belewah. Kalau kita masuk Negara saat ini tentu disambut jejeran truk dan pick up pengangkut buah terutama semangka.

Sabtu, 28 Mei 2011

PERKAWINAN NEGARA PART III

Ketika acara puncak yaitu resepsinya ada beberapa acara seremonial yang harus dilalui, yaitu :
Badua Selamat Pengantin
Badua Selamat Pengantin artinya berdoa untuk keselamatn pengantin dan anggota keluarga, biasanya dipimpin oleh penghulu atau ulama terkemuka di kampung. Selesai doa para hadirin dapat menikmati hidangan yang telah disiapkan, bagi mereka yang datang terlambat dapat langsung menikmati hidangan sebelum mengucapkan selamat kepada pengantin.
Bahias 
Artinya merias pengantin, biasanya dilakukan sekitar pukul 10 pagi. Tata rias meliputi make up, rambut dan pakaian serta kelengkapan lainnya seperti palimbayan. Cuma hal ini untuk pengantin wanita, sedang pengantin pria biasanya mulai berias setelah sholat dzuhur.
Acara ini yang paling seru, karena ketika pengantin pria sudah mengutus utusan yang menyatakan siap, maka pengantin diarak untuk disandingkan. Biasanya arak arakkan ini diiring dengan kesenian tradisional atau rebana. Arak arakan menuju pengantin wanita ini diikuti tetuha (orang tua) kampung. Didepan rumah pengantin wanita dikumandangkan shalawat Nabi pertanda pengantin datang, maka pengantin wanita keluar untuk menyambut.
Apabila sudah terjadi pertemuan antar kedua keluarga, selanjutnya kedua mempelai duduk bersanding untuk beberapa saat dimuka pintu, tujuannya untuk memperkenalkan kepada masyarakat kedua mempelai telah disyahkan sebelumnya.
Acara dilanjutkan dengan kedua mempelai masuk rumah dan duduk bersanding di pelaminan. Prosesi yang sangat hikmat ketika pengantin sujud dihadapan kedua orang tua wanita dan dilanjutkan dengan besalaman dengan para hadirin. Setelah itu baru dapat berganti pakaian dan beristirahat.
Untuk pelepasan kedua mempelai harus melalui acara sakral selama tiga hari, dimana pengantin wanita bailang (berkunjung) ke rumah pengantin pria selama tiga hari berturut turut. Pada acara itu dikenal ada acara memalami pengantin. Acara puncaknya besalamatan (bersyukuran) di rumah pengantin wanita. Biasanya kedua pengantin akan tinggal sementara waktu di rumah pengantin wanita untuk mengatur kehidupan yang baru. Apabila sudah mampu maka kedua orang tua baru meridhokan keduanya.

Kamis, 26 Mei 2011

BAKAKAWINAN (PERKAWINAN NEGARA PART II)


Bakakawinan atau pelaksanaan upacara perkawinan adalah acara puncak dari serangkaian acara yang merupakan rangkaian proses acara perkawinan adat Negara khususnya dan adat Banjar umumnya. Sebelum menuju pelaminan mempelai wanita melakukan persiapan berupa :


Seperti umumnya adat Melayu mempelai wanita bila akan memasuki pelaminan dipingit atau tidak boleh kemana mana, ini untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan.

Pada waktu memasuki masa pingit ini dipergunakan untuk merawat diri, sehingga nantinya ketika naik pelaminan betul betul  menjadi sentral laksana seorang putri raja. Perawatan diri inilah yang disebut dengan bekasai lebih khusus disebut dengan kasai wida.

Kasai Wida  merupakan upacara perawatan diri secara tradisional yang menggunakan ramuan ramuan tradisional berupa : beras ketan, telor ayam kampung, temu lawak, temu lati atau bila tidak ada menggunakan temu giring. Semua bahan dihaluskan kemudian ditambah dengan air secukupnya. Ramuan yang telah jadi dikasaikan (dioleskan) keseluruh tubuh kecuali wajah.

Kasai Wida dilakukan dengan tujuan sebagai perawatan diri sang mempelai agar ketika bersanding terlihat cerah dan bercahaya ketika disandingkan.


Padatnya acara seremonial dan beragam baju yang harus dikenakan pengantin disamping itu kerumunan tamu yang datang, tentu membuat pengantin gerah dan mudah berkeringat. Untuk mengantisipasi keringat yang dapat mengganggu resepsi nantinya apakah akan membuat baju pengantin basah atau tata rias yang bisa luntur, maka dilakukan dengan cara batimung.

Batimung adalah semacam mandi uap (tsauna ) namun menggunakan ramuan ramuan tradisional sehingga aroma keringat yang kurang sedap bisa menjadi wangi. Ramuan ramuan yang digunakan biasanya berupa : kembang, serai, dan pandan.

Caranya adalah dengan memasukkan semua bahan dalam sebuah panci yang besar.. Semua bahan ditambah dengan air mendidih lalu diletakkan dibawah kursi yang tempat dudukannya berlobang lobang. Jarak antara panci dan kursi kurang lebih sati meter.  Sang calon didudukkan dikursi agar mendapat penguapan dari bawah dengan diselimuti beberapa kain tebal, kalau orang bahari (dahulu) dengan menggunakan tikar purun ( tikar yang terbuat dari purun).


Bapapai  adalah upacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antara masa remaja dengan masa dewasa dan juga diyakini sebagai penghalat atau penangkal dari perbuatan perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu sore hari atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan.


Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan arab atau bulan hijriyah yang baik.

Senin, 16 Mei 2011

GERABAH NEGARA



Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan.

Asal mula

Gerabah diperkirakan telah ada sejak zaman manusia purba. Di situs-situs bersejarah, telah ditemukan banyak gerabah kuno yang berfungsi sebagai perkakas rumah tangga

Macam

  • Piring
  • Kendi
  • Tempayan
  • Anglo
  • Kuali
  • Celengan
  • Pot
  • Gerabah hiasan

Di Negara sentral pembuatan Gerabah berada di desa Bayanan. Akan tetapi orang lebih mengenal dengan “pedapuran”, karena di daerah ini banyak pembuat gerabah untuk dapur, kuali dan anglo. Akan tetapi banyak juga yang membuat gerabah celengan dan hiasan.

Pembuatan

1.     Pengambilan tanah liat. Tanah liat diambil dengan cara menggali secara langsung ke dalam tanah yang mengandung banyak tanah liat yang baik. Tanah liat yang baik berwarna merah coklat atau putih kecoklatan. Tanah liat yang telah digali kemudian dikumpulkan pada suatu tempat untuk proses selanjutnya. Karena Negara wilayahnya rawa maka untuk mendapat kreteria itu para pengrajin tidak terlalu sulit.
2.     Persiapan tanah liat. Tanah liat yang telah terkumpul disiram air hingga basah merata kemudian didiamkan selama satu hingga dua hari. Setelah itu, kemudian tanah liat digiling agar lebih rekat dan liat. Para pengrajin gerabah di Negara umumnya menggunakan penggilingan secara manual yaitu dilakukan dengan cara menginjak-injak tanah liat hingga menjadi ulet dan halus.  Hasilnya menjadi kwalitas  terbaik.
3.     Proses pembentukan. Setalah melewati proses penggilingan, maka tanah liat siap dibentuk sesuai dengan keinginan. Aneka bentuk dan disain depat dihasilkan dari tanah liat. Seberapa banyak tanah liat dan berapa lama waktu yang diperlukan tergantung pada seberapa besar gerabah yang akan dihasilkan, bentuk dan disainnya. Perajin gerabah akan menggunakan kedua tangan untuk membentuk tanah liat dan kedua kaki untuk memutar alat pemutar (perbot). Kesamaan gerak dan konsentrasi sangat diperlukan untuk dapat melakukannya. Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemutar (perbot), alat pemukul, batu bulat, kain kecil. Air juga sangat diperlukan untuk membentuk gerabah dengan baik.
4.     Penjemuran. Setelah bentuk akhir telah terbentuk, maka diteruskan dengan penjemuran. Sebelum dijemur di bawah terik matahari, gerabah yang sudah agak mengeras dihaluskan dengan air dan kain kecil lalu dibatik dengan batu api. Setalah itu baru dijemur hingga benar-benar kering. Lamanya waktu penjemuran disesuaikan dengan cuaca dan panas matahari.
5.     Pembakaran. Setalah gerabah menjadi keras dan benar-benar kering, kemudian banyak gerabah dikumpulkan dalam suatu tempat atau tungku pembakaran. Gerabah-gerabah tersebut kemudian dibakar selama beberapa jam hingga benar-benar keras. Proses ini dilakukan agar gerabah benar-benar keras dan tidak mudah pecah. Bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran adalah kayu bakar.
6.     Penyempurnaan. Dalam proses penyempurnaan, gerabah jadi dapat dicat dengan cat khusus atau diglasir sehingga terlihat indah dan menarik sehingga bernilai jual tinggi.

Jumat, 13 Mei 2011

Perkawinan Negara


Tulisan ini dimaksudkan sebagai adat perkawinan yang dilakukan masyarakat Negara (Daha). Untuk menuju ke proses perkawinan harus melalui beberapa tahapan, sebagaimana umumnya masyarakat Banjar yang merupakan masyarakat asli Kalimantan Selatan.
Proses itu diawali dengan batunangan yaitu ikatan kesepakatan dari kedua orang tua masing masing untuk mencalonkan  kedua anak mereka kelak sebagai suami istri. Biasanya batunangan hanya diketahui oleh kedua orang tua saja apabila masing masing mempunyai anak yang telah melalui masa aqil baliq bahkan ada yang dilakukan sejak masih kecil. Dari kebiasaan inilah maka banyak pasangan pasangan muda di Negara, namun seiring perubahan jaman kebiasaan itu sudah mulai terkikis apalagi dengan kesadaran arti pendidikan dikalangan orang tua sehingga sekolah anak mulai mendapat tempat sebagai sekala prioritas.
Sisi positif dari batunangan mampu mengurangi angka “pacaran” karena masing masing pemuda dan pemudi sudah mempunyai calon pendamping hidupnya, bahkan dahulu orang Negara tidak mengenal istilah “pacaran”.
Pelaksanaan upacara perkawinan memakan waktu dan proses yang panjang, karena harus melalui beberapa proses seperti betatakunan artinya upacara lamaran, babayuan atau dalam istilah lain bapatut jujuran artinya kesepakatan jujuran atau pertalian antar kedua belah pihak, maatar jujuran atau maatar petalian  yaitu proses mengantar jujuran atau pertalian, dan bakakawinan adalah resepsi pelaksanaan upacara perkawinan.
Sebagaimana orang melayu semua proses banyak dihiasi dengan pantun pantun atau musik tradisional atau madihin.
Pihak perempuan sifatnya menunggu, jadi dari pihak laki lakilah yang proaktif  betatakunan mulai mencari informasi tentang gadis yang dimaksud mulai dari bibit, bebet dan bobotnya, termasuk apakah sang gadis sudah ada ikatan atau belum dengan pihak lain. Bila dirasa cukup sesuai maka dikirim utusan untuk melamar. Biasanya terjadi perang pantun, jadi sang utusan disamping bijak, juga harus seorang diplomatic handal yang dapat menjadi “orang tua” sehingga lamarannya diterima.
Apabila terjadi kesepakatan maka proses selanjutnya adalah babayuan  atau bapatut jujuran. Pada proses ini pihak laki laki mengirim utusan untuk membicarakan mas kawinnya, juga perhitungan perhitungan pelaksanaan perkawinan nantinya. Karena mengemban tugas yang cukup berat, maka sang utusan tidak sekedar mempunyai persyaratan diatas, tetapi juga ahli hitung. Kebijakannya harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi, status social, pendidikan dan lainnya yang menjadi frame of experience sang calon pengantin.. Terlepas dari besar kecilnya mas kawin umumnya untuk membekali pasangan baru nantinya disyaratkan seisi kamar maksudnya ranjang, almari serta buffet perias. Namun semua berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Setelah terjadi kesepakatan dilanjutkan dengan maatar jujuran atau maatar petalian.  Kegiatan yang umumnya dilaksanakan oleh ibu ibu ini dimaksudkan untuk mengantarkan mas kawin yang telah disepakati sebagai ikatan bahwa kedua belah pihak akan melaksanakan perkawinan. Pada acara ini sekaligus ditentukan waktu resepsinya.
Sebagai acara puncak adalah bakakawinan atau resepsi perkawinannya. Pada acara ini cukup simple dan tidak banyak seremonial seperti di jawa, intinya untuk memperkenalkan dan mengumumkan pada tamu pada hari itu telah resmi pasangan yang melaksankan perkawinan. Biasanya hidangan dihidangkan secara prasmanan, tamu datang langsung makan selanjutnya memberi ucapan selamat kepada pengantin, lalu pulang. Jadi yang datang tidak ditentukan jamnya, mereka dapat datang secara bergantian pada hari itu. Pelaksanaannya biasanya di bulan maulid dan bulan haji. @

Kamis, 12 Mei 2011

Kenangan Mualim KH Syamsuni Negara Bersama Pemuka Masyarakat





 Bersama 
Al Allamah 
Tuan Guru H M Zaini Ghani Sekumpul



Bersama 
Bupati HSS 
Dr M Safi'i M Si



Bersama 
Habib Al Kaff 
dan Habib Abdillah






Bersama 
Habib Husien Rantau




Bersama 
Habib Umar Al Habsyi

Rabu, 11 Mei 2011

PIP satu satunya peserta Pelatihan Kepemimpinan dari Negara

Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Pemuda dan Pelajar se HSS

Tanggal 6 Mei 2011 hingga 8 Mei 2011 lalu GP Ansor HSS mengadakan Pelatihan Kepemimpinan se HSS yang diadakan di aula Diknas Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Loksado. Dari sekolah yang mengirim utusannya Madrasah Aliyah PIP merupakan satu satunya peserta dari Negara.Madrasah PIP sendiri mengirim lima peserta, yakni Muhammad Yamin, Siti Nurbayah, Siti Rahmah A, Siti Rahmah B dan Wahyudi.

Minggu, 08 Mei 2011

Dragon Boat




Dalam Rangka hari Pendidikan Nasional Disbudpar HSS mengadakan lomba perahu naga (dragon boat) antar sekolah se Negara pada tanggal 8 Mei  2011. Lomba yang diikuti 12 tim putra dan 4 tim putri ini dilaksanakan di sengai Negara ( sungai Bahan ) yang dipusatkan di pelabuhan kota Negara.


Untuk mempromosikan Negara sebagai kota wisata air memang diperlukan kiat kiat semacam lomba dragon boat ini, disamping untuk mencari bibit bibit atlit daerah yang potensial yang bisa berprestasi hingga nasional atau bahakan internasional. Panitia menyediakan hadiah uang pembinaan sebesar Rp 1.250.000,- untuk juara pertama, Rp 1.000.000,- untuk juara kedua, dan Rp 750.000,- untuk juara ketiga serta Rp 500.000,- untuk juara empat baik putra maupun putri.

Sebagai bukti hasil binaan tersebut lahir juara baru dari sekolah wilayah terpencil, SMA Negeri Daha Barat (Bajayau) yang dilatih guru olah raganya Agus sebagai juara pertama putra. Untuk juara kedua putra diraih tim SMKN Daha Selatan disusul Tim MAN Tambak Bitin sebagai juara ketiga, sedang juara empat diraih peserta dari SMPN 3 Daha Selatan.

Lagi lagi SMA Bajayau membuktikan di tim putri walau lahir sebagai juara ketiga, juara pertama diraih oleh SMAN Daha Utara, disusul tim SMKN Daha Selatan dan SMPN 3 Daha Selatan. Kedepan diharapkan lomba yang akan datang lebih meriah, paling tidak pada hari proklamasi 17 Agustus yang akan datang yang direncanakan untuk umum. (@)

Kamis, 05 Mei 2011

Arah Pendidikan Kita

Dalam setahun ini paling tidak sudah ada tiga kebijakan pemerintah tentang pendidikan yang menghebohkan. Masalah standar kelulusan merupakan kebijakan yang ramai dibincangkan, hal ini menyangkut waktu kebijakan, isi kebijakan atau tujuan dan kepentingan kebijakan. Lalu bagaimana kenyataan di lapangannya ?
Sudah dapat ditebak apapun alasannya Ujian Nasional akan tetap dipertahankan, walaupun banyak yang menentang dan bahkan secara hukum telah diputuskan MA. Apalagi kalau bukan karena ini adalah sebuah proyek besar, walaupun di lapangan banyak ditemukan kenyataan yang mewarnai dunia pendidikan kita menjadi abu abu. Dari pelaksanaannya saja sudah menyedihkan, ketika ujian harus melibatkan aparat kepolisian, artinya sudah tidak ada kepercayaan lagi pemerintah pada anak anak bangsa, juga pada guru guru atau panitianya. Sebuah langkah yang didasari dengan ketidak percayaan tentu ditengah jalan akan selalu ada kecurigaan bahkan menjadi stimuli kecurangan. Belum lagi nantinya pemerintah daerah menginstruksikan baik itu Cuma secara lisan yang secara hirarki akan sampai ke bawah tuntutan agar daerahnya tidak “jeblok” dalam ujian nasional. Wal hasil murid dan guru saling kongkalikong agar bagaimana sekolahnya biar lulus seratus persen, tak peduli apa jalannya. Konfigurasi ini bahkan tidak “local”an saja tapi juga regional atau bahkan menasional. Jangan salahkan mereka, toh standar yang diterapkan menyama ratakan sekolah tak peduli lokasi geografis, kondisi daerah, budaya atau tingkat kecenderungan pendidikan masing masing daerah.
Dengan alasan menyerap aspirasi arus bawah lalu diatur komposisi 40-60, apa yang terjadi ? Di negeri ini lahir tukang sulap-tukang sulap baru. Mulai dari raport baru sampai raport yang cuma selembar foto kopian.
Guru sebagai ujung tombak menjadi perahan yang harus berjalan dengan menitipkan hati nuraninya. Ya nasib secara ekonomi sudah jauh terperhatikan, tapi hakekat keguruannya yang terkebiri dengan kebijakan kebijakan yang memojokkan. Belum lagi untuk menunjukkankan profesionalisnya dituntut dengan perangkat perangkat yang setumpuk.
Kalau disetiap Standar Kompetensi Kelulusan taqwa dan budi pekerti selalu di tempatkan sebagai nomor satu di setiap mata pelajaran, apakah bisa tercapai ? Taqwa dan budi pekerti tidak bisa ditransferkan hanya dengan pembelajaran saja tapi pendidikan perlu contoh yang ditiru perlu figure idola dan praktek dalam kenyataan bukan tulisan.
Sering kali kita gengsi menerima kenyataan, kenyataan standar pendidikan kita, kenyataan anak anak bangsa, sehingga tanpa kita sadari kita paksakan dengan teori teori yang terlihat ideal. Ironisnya nilai nilai luhurnya menjadi taruhan.

Kamis, 28 April 2011

Pangeran Samudra Putra Daha

Putri Junjung Buih yang ditemukan oleh Lambung Mangkurat ketika bertapa diyakini adalah putri Dayak yang hanyut, Cuma ada dua versi apakah Dayak Bukit atau Dayak Deyah. Oleh Lambung Mangkurat dikawinkan dengan Raden Putera seorang Pangeran dari Majapahit. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencari raja baru yang berdarah ningrat, karena Lambung Mangkurat hanya anak seorang saudagar yang tak pantas menjadi raja menurut keyakinan waktu itu. Setelah menjadi raja Raden Putra bergelar Pangeran Suryanata.
Masa kejayaan kerajaan Kauripan yang beribukota di Negara Dipa (Amuntai) mulai surut hal ini diyakini karena ibukota sudah tidak layak lagi, maka pusat kerajaan dipindahkan ke Daha pada masa maharaja Sukarama. Sesuai wasiat beliau yang menggantikan beliau ketika wafat seharusnya putra raja yang bernama Pangeran Samudra, namun Pangeran Samudra masih kecil. Suhu politik yang tidak stabil diambil kesempatan pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung.
Untuk menghindari pertumpahan darah Pangeran Samudra dilarikan oleh Mangkubumi Aria Tranggana melalui jalur Muara Sungai Bahan menuju ke Serapat, yang pada akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di Muara Barito.
Di aliran Sungai Barito terdapat beberapa kampung diantaranya adalah kampung Banjar. Sebuah perkampungan Melayu yang dibentuk lima buah sungai, yaitu Sungai Pandai, Sungai Sigaling, Sungai Keramat, Sungai Jagabaya dan Sungai Pageran (sekarang disebut Sungai Pangeran). Kelimanya anak Sungai Kuin.
Kampung Banjar terletak diantara perkampungan Oloh Ngaju di hilir Barito. Oleh orang orang Dayak Ngaju orang orang Melayu disebut dengan Masih, dari sinilah lahir kata Banjarmasih. Dipimpin oleh seorang patih dengan sebutan Patih Masih.
Atas prakarsa Patih Masih beberapa perkampungan disekitar kampung Banjar bersatu dengan kesepakatan beberapa patih diantaranya Patih Balit, Patih Muhur,  Patih Balitung dan Patih Kuin. Walaupun yang memprakarsai adalah Patih Masih tapi ia tak mau menjadi pemimpin, justru mereka sepakat mencari Pangeran Samudra yang bersembunyi di Balendaan, Serapat dengan tujuan utama memisahkan diri dari kerajaan Daha.
Di Jawa ketika itu juga terjadi pergeseran yang luar biasa, kerajaan Islam Demak mencapai masa kejayaannya. Pangeran Samudra minta bantuan ke Demak untuk meruntuhkan kejayaan kerajaan Daha. Kerajaan Demak sendiri menyetujui dengan syarat para pemimpinnya harus masuk Islam dan Islam menjadi agama resmi kepemerintahan.
Persyaratan itu disetujui, dan Demak pun mengirim bantuan yang akhirnya dapat meruntuhkan kejayaan kerajaan Demak. Peristiwa yang terjadi pada abad 16 M ini sangat penting karena menjadi tonggak sejarah di Kalimantan dari masa keemasan Hindu-Bhuda menjadi Islam. Sebagai simbolnya adalah masuknya Pangeran Samudra ke Islam dan berganti nama dengan sebutan Pangeran Suriansyah, juga dengan sebutan lain Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Yang mengislamkan Penghulu Demak Rahmatullah yang diwakilkan ke Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M atau 8 Dzulhijjah 932 H.
Islam berkembang pesat di Kalimantan Selatan, sampai akhirnya datang VOC. Diperkirakan Pangeran Suriansyah meninggal 24 tahun setelah memeluk Islam sekitar tahun 1550 M

Senin, 25 April 2011

Masjid Ibrahim Negara


 Masjid Ibrahim yang terletak di tengah kota Negara, menurut orang tua dulu letaknya jauh di seberang namun tempatnya tidak tahu persis. Karena ada angin ribut kubahnya terbang dan jatuh ditempat sekarang. Ini diyakini sebaga isyarat tempat yang tepat untuk didirikan masjid.
Oleh habib Ibrahin Al Habsyi di rintislah berdirinya masjid yang keberadaannya masih ada hingga sekarang, bahkan soko guru (tiang utama) tetap dipertahankan, sekalipun sudah beberapa kali mengalami renovasi. 
Berikut beberapa sahabat dari habib Ibrahim Al Habsyi yang menjadi tokoh tokoh besar dalam sejarah Nasional

Habib Ahmad bin Husien (wafat 1904) berasal dari Jatinegara, Jakarta. Makamnya persis terdapat di depan Masjid Habib Ibrahim ALHabsyi, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Beliau memiliki seorang putra bernama Abubakar. Abubakar pernah duduk sebagai anggota DPRD Kalsel. Abubakar bersahabat dengan Idham Chalid. Semasa hidupnya, Habib Abubakar adalah salah satu pemuka NU di Kalsel.

Menurut keterangan, Habib Abubakar-lah yang mempengaruhi ke-NU-an Ideham Chalid. Semula, alam pemikiran keagamaan Ideham Chalid agak dipengaruhi warna Muhammadiyah. Persahabatannya dengan Habib Abubakar membuat tokoh politisi sepuh asal Kalsel yang kini tinggal di Jakarta itu menjadi tokoh NU utama. Ideham Chalid pernah beberapa kali menjabat Ketua PBNU sebelum digantikan Gus Dur.

Habib Abubakar memiliki dua putra yaitu Habib Muhammad (tinggal di Kalua, Kabupaten Tabalong) dan Habib Yahya (tinggal di Bincau, Kabupaten Banjar)

Daha Negara Dipa Kalimantan Selatan: Kreatifitas yang terlupakan

Kreatifitas yang terlupakan

Sabtu, 23 April 2011

Al Ihya Story Galleries

  Pertama kali menentukan lokasi ditengah hutan bertanah gambut.

Masyarakat bergotong royong tua muda dalam kebersamaan
 
Membersihkan areal karena di atas tanah gambut sebagian menggunakan jukung


Mendirikan soko guru (tiang utama) yang saat ini masih dipertahankan keberadaannya


Menancapkan soko guru ( tiang utama ) 
 Yang Jelas ini bukan panjat pinang
 Memandang hasil kerja

Jumat, 22 April 2011

Pesta Pelajar

Bulan ini adalah pesta akhir bagi pelajar SMA sederajat dan SMP sederajat.  Bagi pelajar SMA sederajat pesta diakhiri di hari Kartini, bagi pelajar SMP sederajat baru dimulai senin depan.
Banyak aktifitas menyambut pesta Ujian Negara itu, belajar tentunya menjadi aktifitas standar bagi semua siswa bahkan les menjadi kebutuhan. Menjelang hari H nya banyak ritual yang dilaksanakan umumnya doa bersama. Lain halnya dengan siswa Madrasah Aliyah PIP, mereka melaksanakan shalat hajat bersama di masjid besar Al Ihya Habirau Tengah, dilanjutkan dengan ziarah ke makam pediri Pondok Pesan PIP KH Syamsuni bin H Ajad dengan acara tahlil bersama sebagai implementasi hormat perguruan sebagaimana yang dianjurkan dalam kitab ta’lim muta’lim.
Begitu usai melaksanakan Ujian Nasional mereka berkumpul sebagai ungkapan syukur walaupun hasil belum diketahui tetapi optimis tampak jelas di raut wajah wajah cerah mereka. Seolah mereka tahu kebersamaan itu akan mulai jarang karena sebentar lagi masing masing menentukan pilihan untuk kuliah atau kerja.

Untuk tahun ini ada tiga siswa yang sudah dipastikan masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK dan dua siswa mendapat kesempatan pendidikan ketrampilan di BLK Banjarbaru untuk dididik menjadi tenaga tenaga trampil di bidang otomotif.. Semangat belajar inilah yang dibutuhkan oleh putra putra daerah untuk membangun daerahnya. Satu saat pasti terwujud orang tua akan berucap pada orang tua lainnya ketika  bertemu pertama “ Dimana anakmu kuliah ? “ bukan “Berapa anakmu ?”

Kamis, 21 April 2011

Kerajinan Hulu Parang Parigi

Kali ini kita memasuki desa Parigi, sebuah desa antara desa Habirau Tengah dan Banua Anyar terletak di sepanjang sungai Bahan (sungai Negara). Desa yang dipimpin oleh pembekal Abdur Rahman Sidiq, S Ag ini termasuk kawasan yang padat. Sebagaimana pemukiman di wilayah Negara, desa Parigi juga mempunyai tata ruang yang kurang baik. Rumah rumah berhimpitan bahkan menghadapnya saja ada yang ke utara, timur atau   barat. Sebagian berada dipinggir jalan dan sebagian masuk gang gang ke dalam yang dihubungkan dengan titian titian.
Tingkat pendidikan masih cukup rendah, menurut wakil ketua DPRD Hulu Sungai Selatan yang juga pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Parigi, H Bahran, S, PdI di desa Parigi hanya mempunyai lulusan sarjana sebanyak empat orang, itu sudah termasuk pembekal (kepala desa) dan istrinya. Sekolah yang ada di desa ini hanya ada satu Sekolah Dasar dan satu Sekolah Menengah Pertama dengan catatan SMP yang ada baru berdiri dua tahun.
Untuk kegiatan keagamaan desa Parigi termasuk yang luar biasa ada pengajian rutin di Majlis Taklim H Andi, disamping pengajian pengajian kecil lainnya. Mereka biasanya membawakan syiir syiir maulidul habsi atau manakib (sejarah) para alim ulama.
Mata pencarian masyarakat mayoritas petani atau nelayan tradisional. Dua tahun terakhir ini menjadi bagian terberat bagi masyarakat Parigi karena perubahan musim yang mengakibatkan air pasang tinggi dan tidak pernah surut, sehingga para petani lebih tepatnya peladan tidak bias pehuma (bertani). Mencari ikan menjadi andalan, itupun sudah mulai dirasakan sulit karena biasanya mereka mengharap ikan yang banyak ketika perubahan musim dari penghujan ke kemarau dimana air mulai surut,  dan itu tidak terjadi dua tahun terakhir ini.
Sebagian lagi ada yang berwirausaha dibidang peemasan, maksudnya mengolah emas sesuai pesanan konsumen. Dibidang ini juga mulai lesu karena pluktuatifnya harga emas yang mengakibatkan pedangang tidak berani gambling.
Kesulitan di masalah ekonomi ini mengakibatkan sebagian dari masyarakat Parigi mencoba mencari rejeki ke kota lain, biasanya ke Palangka Raya atau kota kota di Kalimantan Tengah lainnya. Mereka yang keluar ini biasanya berbekal kemampuan di bidang keemasan.
Ada yang unik di desa ini, disaat usaha kayu yang dulu menjadi primadona dan sekarang sudah mati, tapi masih ada yang tetap bertahan dan eksis. Usaha moulding milik pembekal Parigi yang mengkhususkan membuat hulu parang (gagang pisau).
Banyak cara dan kreatifitas untuk meng ‘akal’i agar usaha ini tetap eksis, terutama untuk pemenuhan bahan baku yang sudah langka. Sang pemilik lebih memilih bahan bahan daur ulang, dan ketika bahan daur ulang juga sulit didapat lagi, sekarang diganti dengan kayu galam yang memang banyak tumbuh di daerah rawan. Tidak harus yang besar karena yang diperlukan memang cukup yang berdiameter kecil.
Dengan tiga mesin rakitan dikerjakan oleh empat karyawan. Satu orang karyawan dalam satu hari rata rata bias membuat 200 hulu yang pangjangnya perhulu kurang lebih 25 cm. Besar kecilnya beragam tergantung kebutuhan, ada yang untuk parit, ada yang untuk parang, ada yang untuk pisau bahkan sekarang ada pesanan untuk panci betangkai.
Hasilnya sudah ada yang dikirim ke Banjarmasin, walaupun mayoritas masih untuk kebutuhan local.

Antara Tugas dan Kondisi

Mengapa semakin hari semakin meningkat itensitas kejahatan di Negara ? Berita pencurian atau bahkan perampasan mulai sering terdengar. Perkelahian mabuk mabukan juga akrab ditelinga. Di tahun ini saja kejahatan seksual sudah merambah anak anak setingkat SMP. Belum lagi pornografi di dunia maya yang melibatkan generasi dari Negara.
Aku jadi ingat cerita pengusaha muda sukses di Banjarmasin, yang dulunya atlit. Ketika menjalani training di Jawa justru terjerumus di dunia narkoba. Untungnya cepat bangkit kembali dan meninggalkan dunia hitamnya dan sekarang menjadi pengusaha kuliner yang sukses.
Yang perlu digaris bawahi adalah ketika terjerumus ke dunia hitam karena terkejut dengan perubahan dan fasilitas fasilitas yang ada di kota. Lalu adakah gejala itu juga dialami masyarakat Negara saat ini ? Mereka terkejut dengan tehnologi yang masuk dan dibarengi ‘setan setan’ jaman.
Jawabnya bisa ya bisa tidak, kalau ya bagaimana mungkin ? apakah lemahnya control ? Yang jelas perubahan social ini adalah resiko dari sebuah kemajuan. Pertanyaannya bagaimana meminimalkannya.
Iseng iseng masuk ke kantor aparat sebagai salah satu ornament control social yang ada di Negara, yaitu di Poksek Daha Selatan. Sedikit terkejut melihat kantor yang terlihat sudah mulai kumuh dikelilingi genangan air. Titian kayu yang hampir rapuh menandakan lamanya titian sementara itu menghiasi halaman depan kantor. Sudah dapat dipastikan sang aparat tidak pernah lagi ada upacara, karena halamannya saja penuh dengan genangan air.

Disebelah kanan terdapat perumahan polisi yang juga dikelilingi dengan genangan air, dihubungkan dengan titian titian sementara juga, tentu tidak memenuhi standar kelayakan kehidupan. Bagaimana penghuninya akan bekerja maksimal ? Disebelah kiri tampak gudang berisi kendaraan dan jukung. Melihat barangnya tentu barang sitaan bekas tabrakan atau kejahatan. Kondisinya mulai berkarat menjadi besi tua.
Masuk kedalam terdapat ruangan sempit yang berfungsi sebagai pos penjagaan dan penerimaan tamu, Kapasitas maksimal 4 orang, jadi kalau berususan jangan berombongan. Lebih kedalam ada sel sementara kapasitas sekitar sepuluh orang, yang tentu membuat orang jera bila masuk kedalamnya.
Polsek ini masih menangani dua sector Daha Selatan dan Daha Barat, wah tentu anggotanya banyak. Ternyata secara keseluruhan hanya 19 orang saja. Tak bisa dibayangkan kalau masa ujian seperti sekarang bagaimana membaginya. Kalau sekarang ada 6 SMP sederajat di Daha Selatan dan Daha Barat sudah membutuhkan 12 personil, lha kalau malamnya ada yang piket dua atau tiga tentu habis karena sisanya jaga pos siang. Lalu siapa ya yang jaga bank atau daerah daerah rawan, atau setidaknya patroli.
Yah itulah adanya………mau apalagi ? Trimakasih polisi polisi mudaku, semoga ada mukjizat yang menjadikan anda seperti Briptu Norman, Bravo.