Kamis, 28 April 2011

Pangeran Samudra Putra Daha

Putri Junjung Buih yang ditemukan oleh Lambung Mangkurat ketika bertapa diyakini adalah putri Dayak yang hanyut, Cuma ada dua versi apakah Dayak Bukit atau Dayak Deyah. Oleh Lambung Mangkurat dikawinkan dengan Raden Putera seorang Pangeran dari Majapahit. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencari raja baru yang berdarah ningrat, karena Lambung Mangkurat hanya anak seorang saudagar yang tak pantas menjadi raja menurut keyakinan waktu itu. Setelah menjadi raja Raden Putra bergelar Pangeran Suryanata.
Masa kejayaan kerajaan Kauripan yang beribukota di Negara Dipa (Amuntai) mulai surut hal ini diyakini karena ibukota sudah tidak layak lagi, maka pusat kerajaan dipindahkan ke Daha pada masa maharaja Sukarama. Sesuai wasiat beliau yang menggantikan beliau ketika wafat seharusnya putra raja yang bernama Pangeran Samudra, namun Pangeran Samudra masih kecil. Suhu politik yang tidak stabil diambil kesempatan pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung.
Untuk menghindari pertumpahan darah Pangeran Samudra dilarikan oleh Mangkubumi Aria Tranggana melalui jalur Muara Sungai Bahan menuju ke Serapat, yang pada akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di Muara Barito.
Di aliran Sungai Barito terdapat beberapa kampung diantaranya adalah kampung Banjar. Sebuah perkampungan Melayu yang dibentuk lima buah sungai, yaitu Sungai Pandai, Sungai Sigaling, Sungai Keramat, Sungai Jagabaya dan Sungai Pageran (sekarang disebut Sungai Pangeran). Kelimanya anak Sungai Kuin.
Kampung Banjar terletak diantara perkampungan Oloh Ngaju di hilir Barito. Oleh orang orang Dayak Ngaju orang orang Melayu disebut dengan Masih, dari sinilah lahir kata Banjarmasih. Dipimpin oleh seorang patih dengan sebutan Patih Masih.
Atas prakarsa Patih Masih beberapa perkampungan disekitar kampung Banjar bersatu dengan kesepakatan beberapa patih diantaranya Patih Balit, Patih Muhur,  Patih Balitung dan Patih Kuin. Walaupun yang memprakarsai adalah Patih Masih tapi ia tak mau menjadi pemimpin, justru mereka sepakat mencari Pangeran Samudra yang bersembunyi di Balendaan, Serapat dengan tujuan utama memisahkan diri dari kerajaan Daha.
Di Jawa ketika itu juga terjadi pergeseran yang luar biasa, kerajaan Islam Demak mencapai masa kejayaannya. Pangeran Samudra minta bantuan ke Demak untuk meruntuhkan kejayaan kerajaan Daha. Kerajaan Demak sendiri menyetujui dengan syarat para pemimpinnya harus masuk Islam dan Islam menjadi agama resmi kepemerintahan.
Persyaratan itu disetujui, dan Demak pun mengirim bantuan yang akhirnya dapat meruntuhkan kejayaan kerajaan Demak. Peristiwa yang terjadi pada abad 16 M ini sangat penting karena menjadi tonggak sejarah di Kalimantan dari masa keemasan Hindu-Bhuda menjadi Islam. Sebagai simbolnya adalah masuknya Pangeran Samudra ke Islam dan berganti nama dengan sebutan Pangeran Suriansyah, juga dengan sebutan lain Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Yang mengislamkan Penghulu Demak Rahmatullah yang diwakilkan ke Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M atau 8 Dzulhijjah 932 H.
Islam berkembang pesat di Kalimantan Selatan, sampai akhirnya datang VOC. Diperkirakan Pangeran Suriansyah meninggal 24 tahun setelah memeluk Islam sekitar tahun 1550 M

Senin, 25 April 2011

Masjid Ibrahim Negara


 Masjid Ibrahim yang terletak di tengah kota Negara, menurut orang tua dulu letaknya jauh di seberang namun tempatnya tidak tahu persis. Karena ada angin ribut kubahnya terbang dan jatuh ditempat sekarang. Ini diyakini sebaga isyarat tempat yang tepat untuk didirikan masjid.
Oleh habib Ibrahin Al Habsyi di rintislah berdirinya masjid yang keberadaannya masih ada hingga sekarang, bahkan soko guru (tiang utama) tetap dipertahankan, sekalipun sudah beberapa kali mengalami renovasi. 
Berikut beberapa sahabat dari habib Ibrahim Al Habsyi yang menjadi tokoh tokoh besar dalam sejarah Nasional

Habib Ahmad bin Husien (wafat 1904) berasal dari Jatinegara, Jakarta. Makamnya persis terdapat di depan Masjid Habib Ibrahim ALHabsyi, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Beliau memiliki seorang putra bernama Abubakar. Abubakar pernah duduk sebagai anggota DPRD Kalsel. Abubakar bersahabat dengan Idham Chalid. Semasa hidupnya, Habib Abubakar adalah salah satu pemuka NU di Kalsel.

Menurut keterangan, Habib Abubakar-lah yang mempengaruhi ke-NU-an Ideham Chalid. Semula, alam pemikiran keagamaan Ideham Chalid agak dipengaruhi warna Muhammadiyah. Persahabatannya dengan Habib Abubakar membuat tokoh politisi sepuh asal Kalsel yang kini tinggal di Jakarta itu menjadi tokoh NU utama. Ideham Chalid pernah beberapa kali menjabat Ketua PBNU sebelum digantikan Gus Dur.

Habib Abubakar memiliki dua putra yaitu Habib Muhammad (tinggal di Kalua, Kabupaten Tabalong) dan Habib Yahya (tinggal di Bincau, Kabupaten Banjar)

Daha Negara Dipa Kalimantan Selatan: Kreatifitas yang terlupakan

Kreatifitas yang terlupakan

Sabtu, 23 April 2011

Al Ihya Story Galleries

  Pertama kali menentukan lokasi ditengah hutan bertanah gambut.

Masyarakat bergotong royong tua muda dalam kebersamaan
 
Membersihkan areal karena di atas tanah gambut sebagian menggunakan jukung


Mendirikan soko guru (tiang utama) yang saat ini masih dipertahankan keberadaannya


Menancapkan soko guru ( tiang utama ) 
 Yang Jelas ini bukan panjat pinang
 Memandang hasil kerja

Jumat, 22 April 2011

Pesta Pelajar

Bulan ini adalah pesta akhir bagi pelajar SMA sederajat dan SMP sederajat.  Bagi pelajar SMA sederajat pesta diakhiri di hari Kartini, bagi pelajar SMP sederajat baru dimulai senin depan.
Banyak aktifitas menyambut pesta Ujian Negara itu, belajar tentunya menjadi aktifitas standar bagi semua siswa bahkan les menjadi kebutuhan. Menjelang hari H nya banyak ritual yang dilaksanakan umumnya doa bersama. Lain halnya dengan siswa Madrasah Aliyah PIP, mereka melaksanakan shalat hajat bersama di masjid besar Al Ihya Habirau Tengah, dilanjutkan dengan ziarah ke makam pediri Pondok Pesan PIP KH Syamsuni bin H Ajad dengan acara tahlil bersama sebagai implementasi hormat perguruan sebagaimana yang dianjurkan dalam kitab ta’lim muta’lim.
Begitu usai melaksanakan Ujian Nasional mereka berkumpul sebagai ungkapan syukur walaupun hasil belum diketahui tetapi optimis tampak jelas di raut wajah wajah cerah mereka. Seolah mereka tahu kebersamaan itu akan mulai jarang karena sebentar lagi masing masing menentukan pilihan untuk kuliah atau kerja.

Untuk tahun ini ada tiga siswa yang sudah dipastikan masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK dan dua siswa mendapat kesempatan pendidikan ketrampilan di BLK Banjarbaru untuk dididik menjadi tenaga tenaga trampil di bidang otomotif.. Semangat belajar inilah yang dibutuhkan oleh putra putra daerah untuk membangun daerahnya. Satu saat pasti terwujud orang tua akan berucap pada orang tua lainnya ketika  bertemu pertama “ Dimana anakmu kuliah ? “ bukan “Berapa anakmu ?”

Kamis, 21 April 2011

Kerajinan Hulu Parang Parigi

Kali ini kita memasuki desa Parigi, sebuah desa antara desa Habirau Tengah dan Banua Anyar terletak di sepanjang sungai Bahan (sungai Negara). Desa yang dipimpin oleh pembekal Abdur Rahman Sidiq, S Ag ini termasuk kawasan yang padat. Sebagaimana pemukiman di wilayah Negara, desa Parigi juga mempunyai tata ruang yang kurang baik. Rumah rumah berhimpitan bahkan menghadapnya saja ada yang ke utara, timur atau   barat. Sebagian berada dipinggir jalan dan sebagian masuk gang gang ke dalam yang dihubungkan dengan titian titian.
Tingkat pendidikan masih cukup rendah, menurut wakil ketua DPRD Hulu Sungai Selatan yang juga pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Parigi, H Bahran, S, PdI di desa Parigi hanya mempunyai lulusan sarjana sebanyak empat orang, itu sudah termasuk pembekal (kepala desa) dan istrinya. Sekolah yang ada di desa ini hanya ada satu Sekolah Dasar dan satu Sekolah Menengah Pertama dengan catatan SMP yang ada baru berdiri dua tahun.
Untuk kegiatan keagamaan desa Parigi termasuk yang luar biasa ada pengajian rutin di Majlis Taklim H Andi, disamping pengajian pengajian kecil lainnya. Mereka biasanya membawakan syiir syiir maulidul habsi atau manakib (sejarah) para alim ulama.
Mata pencarian masyarakat mayoritas petani atau nelayan tradisional. Dua tahun terakhir ini menjadi bagian terberat bagi masyarakat Parigi karena perubahan musim yang mengakibatkan air pasang tinggi dan tidak pernah surut, sehingga para petani lebih tepatnya peladan tidak bias pehuma (bertani). Mencari ikan menjadi andalan, itupun sudah mulai dirasakan sulit karena biasanya mereka mengharap ikan yang banyak ketika perubahan musim dari penghujan ke kemarau dimana air mulai surut,  dan itu tidak terjadi dua tahun terakhir ini.
Sebagian lagi ada yang berwirausaha dibidang peemasan, maksudnya mengolah emas sesuai pesanan konsumen. Dibidang ini juga mulai lesu karena pluktuatifnya harga emas yang mengakibatkan pedangang tidak berani gambling.
Kesulitan di masalah ekonomi ini mengakibatkan sebagian dari masyarakat Parigi mencoba mencari rejeki ke kota lain, biasanya ke Palangka Raya atau kota kota di Kalimantan Tengah lainnya. Mereka yang keluar ini biasanya berbekal kemampuan di bidang keemasan.
Ada yang unik di desa ini, disaat usaha kayu yang dulu menjadi primadona dan sekarang sudah mati, tapi masih ada yang tetap bertahan dan eksis. Usaha moulding milik pembekal Parigi yang mengkhususkan membuat hulu parang (gagang pisau).
Banyak cara dan kreatifitas untuk meng ‘akal’i agar usaha ini tetap eksis, terutama untuk pemenuhan bahan baku yang sudah langka. Sang pemilik lebih memilih bahan bahan daur ulang, dan ketika bahan daur ulang juga sulit didapat lagi, sekarang diganti dengan kayu galam yang memang banyak tumbuh di daerah rawan. Tidak harus yang besar karena yang diperlukan memang cukup yang berdiameter kecil.
Dengan tiga mesin rakitan dikerjakan oleh empat karyawan. Satu orang karyawan dalam satu hari rata rata bias membuat 200 hulu yang pangjangnya perhulu kurang lebih 25 cm. Besar kecilnya beragam tergantung kebutuhan, ada yang untuk parit, ada yang untuk parang, ada yang untuk pisau bahkan sekarang ada pesanan untuk panci betangkai.
Hasilnya sudah ada yang dikirim ke Banjarmasin, walaupun mayoritas masih untuk kebutuhan local.

Antara Tugas dan Kondisi

Mengapa semakin hari semakin meningkat itensitas kejahatan di Negara ? Berita pencurian atau bahkan perampasan mulai sering terdengar. Perkelahian mabuk mabukan juga akrab ditelinga. Di tahun ini saja kejahatan seksual sudah merambah anak anak setingkat SMP. Belum lagi pornografi di dunia maya yang melibatkan generasi dari Negara.
Aku jadi ingat cerita pengusaha muda sukses di Banjarmasin, yang dulunya atlit. Ketika menjalani training di Jawa justru terjerumus di dunia narkoba. Untungnya cepat bangkit kembali dan meninggalkan dunia hitamnya dan sekarang menjadi pengusaha kuliner yang sukses.
Yang perlu digaris bawahi adalah ketika terjerumus ke dunia hitam karena terkejut dengan perubahan dan fasilitas fasilitas yang ada di kota. Lalu adakah gejala itu juga dialami masyarakat Negara saat ini ? Mereka terkejut dengan tehnologi yang masuk dan dibarengi ‘setan setan’ jaman.
Jawabnya bisa ya bisa tidak, kalau ya bagaimana mungkin ? apakah lemahnya control ? Yang jelas perubahan social ini adalah resiko dari sebuah kemajuan. Pertanyaannya bagaimana meminimalkannya.
Iseng iseng masuk ke kantor aparat sebagai salah satu ornament control social yang ada di Negara, yaitu di Poksek Daha Selatan. Sedikit terkejut melihat kantor yang terlihat sudah mulai kumuh dikelilingi genangan air. Titian kayu yang hampir rapuh menandakan lamanya titian sementara itu menghiasi halaman depan kantor. Sudah dapat dipastikan sang aparat tidak pernah lagi ada upacara, karena halamannya saja penuh dengan genangan air.

Disebelah kanan terdapat perumahan polisi yang juga dikelilingi dengan genangan air, dihubungkan dengan titian titian sementara juga, tentu tidak memenuhi standar kelayakan kehidupan. Bagaimana penghuninya akan bekerja maksimal ? Disebelah kiri tampak gudang berisi kendaraan dan jukung. Melihat barangnya tentu barang sitaan bekas tabrakan atau kejahatan. Kondisinya mulai berkarat menjadi besi tua.
Masuk kedalam terdapat ruangan sempit yang berfungsi sebagai pos penjagaan dan penerimaan tamu, Kapasitas maksimal 4 orang, jadi kalau berususan jangan berombongan. Lebih kedalam ada sel sementara kapasitas sekitar sepuluh orang, yang tentu membuat orang jera bila masuk kedalamnya.
Polsek ini masih menangani dua sector Daha Selatan dan Daha Barat, wah tentu anggotanya banyak. Ternyata secara keseluruhan hanya 19 orang saja. Tak bisa dibayangkan kalau masa ujian seperti sekarang bagaimana membaginya. Kalau sekarang ada 6 SMP sederajat di Daha Selatan dan Daha Barat sudah membutuhkan 12 personil, lha kalau malamnya ada yang piket dua atau tiga tentu habis karena sisanya jaga pos siang. Lalu siapa ya yang jaga bank atau daerah daerah rawan, atau setidaknya patroli.
Yah itulah adanya………mau apalagi ? Trimakasih polisi polisi mudaku, semoga ada mukjizat yang menjadikan anda seperti Briptu Norman, Bravo.

Rabu, 20 April 2011

Elnino atau ulah manusia

Dua tahun sudah di Negara belum pernah merasakan kemarau, bahkan banjir sudah dua kali. Kasihan masyarakat tidak bisa behuma (ke ladang) jadi dua tahun sudah belum pernah ada panen lagi. Sungai yang dulu bersih kini setiap sore dipenuhi ajakan (sampah berupa ilung atau rumput yang larut). Tadi aku berfikir inilah penyebab utama banjir karena dimuara ajakan terkumpul dan menyumbat aliran sungai, ternyata bukan sekedar itu saja banyak faktor yang mempengaruhi.
Para pakar mengatakan perubahan musim ini merupakan gejala alam akibat pemanasan global yang mengakibatkan elnino. Elnino sendiri istilah yang diambil dari bahasa spanyol artinya anak laki laki, lalu diartikan  sebagai gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan samudra Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi dari pada rata rata normalnya.Akibatnya mempengaruhi iklim dunia karena permukaan laut cenderung naik.
Bila memang dampak dari gejala alam elnino, berarti banjir akan terjadi secara berkala sekitar 4 atau 5 tahun. Banjir kali ini lebih tinggi dari biasanya dan air pasang tak putus sehingga hampir tak ada lagi kemarau. Apakah ada kecenderungan lain selain gejala alam elnino ? Memang Negara merupakan wilayah terendah di Hulu Sungai Selatan sehingga air dari beberapa sungai sebelum mencapai muara melalui Negara. Apabila di hulunya tidak ada penghalang atau penyerap air maka turunnya ke Negara. Eksploitasi hutan menjadi faktor dominan dalam hal ini, diperparah dengan pengerukan tambang sehingga air laksana ditumpahkan dari atas dan dapat dipastikan Negara yang mempunyai dataran terendah yang menanggung dari eksploitasi hutan dan penggerukan tambang batu bara tanpa sedikitpun menikmati hasil bahkan hanya bencana.
Ada filosofi menarik ketika Sunan Kali Jaga yang ketika itu masih menjadi bajingan hendak merampok Sunan Bonang karena Sunan Bonang memakai Bakiak yang ada emasnya. Tapi kata Sunan Bonang yang mengkilap dibawah tak seberapa bila dibanding dengan emas yang diatas. Sembari bicara demikian Sunan Bonang menunjuk satu pohon seperti kelapa tapi buahnya kecil kecil. Buah yang tampak seperti emas berkilau itu membuat Sunan Kali Jaga kagum, ketika pandangannya kembali ke Sunan Bonang yang bersangkutan sudah tak ada. Sunan Kali Jaga kembali memandang ke satu pohon itu lagi tapi juga tak ada. Sunan Kali Jaga mencari sambil berucap " Endhi sak wit mau " ( mana satu pohon tadi }. Karena seringnya terucap lalu pohon itu disebut sakwit {satu Pohon. Sekarang dikenal sawit.
Sunan Bonang telah memberi pelajaran untuk lebih mengutamakan tanaman yang ke atas dari pada mengeruk yang kemilau di bawah. Sumber Daya Alam yang dapat diperbarui seharusnya mendapat perhatian lebih khusus dari pada Sumber Daya Alam yang tak dapat diperbarui, terutama demi anak cucu.

Kreatifitas yang terlupakan

Yang lama belum tentu sudah tidak baik, bahkan akan jauh lebih bermanfaat bila kita dapat lebih mendalami. Saat ini semua serba instan, dari makanan, barang barang kebutuhan sehari hari, mainan bahkan pola pikir juga instan. Dulu ketika masih kecil aku ingat, permainan cukup terbatas, tapi sekarang mulai dari PS komputer atau telepon genggam menjadi mainan anak anak. Ada yang terlupakan dalam kesederhanaan dan keterbatasan justru menggugah kita untuk berkreasi, yang pada akhirnya membentuk pola pikir yang kreatif juga.
Boleh jadi saat ini anak anak bermain perahu dengan penggerak baterai sehingga sekali klik perahu akan berjalan bahkan dengan suara yang mendekati sama dengan perahu sesungguhnya. Mainan bukan sekedar alat mainan bisa jadi sebagai miniatur dari barang barang aslinya.
Anak anak Negara dengan keterbatasannya tak mau kalah bahkan dengan daya imajinasi dan kreatifitas tinggi mereka menikmati perahu mainannya. Cukup sederhana terbuat dari pelepah ilung (eceng gondok) yang dibuang daunnya lalu dipotong potong sesuai dengan ukurannya. Sebagai penyambungnya digunakan potongan lidi.
Tak perlu pelampung khusus karena batang ilung dapat terapung. Untuk menjalankannya tak perlu baterai atau motor lainnya cukup seutas tali lalu ditarik .
Dengan daya imajinasinya mereka mencoba mempolakan perahu seperti aslinya yang mereka lihat setiap saat melintas di sungai Negara (Sungai Bahan). Bentuknya bisa beragam mulai dari yang kecil seperti jukung, ada yang agak besar dan diberi atap seperti klotok, ada juga yang dibentuk seperti kapal pesiar atau bahkan long boat penganggkut tongkang tongkang kecil.
Kreatifitas mereka juga memberi inspirasi agar terlihat seperti aslinya ada yang diberi dian kecil sehingga tampak berasap seolah olah asap yang keluar dari mesin  penggerak perahu.
Tanpa disadari anak anak telah terbiasa dengan berpikir pola dan mencipta. Saat ini mereka membuat perahunya dari pelapah ilung tapi suatu saat mereka akan membuat yang sesungguhnya.
Namun sayang insinyur insinyur kecil kita saat ini semakin menipis, mereka termakan oleh tehnologi yang serba instan. Mereka saat ini dididik untuk menjadi penikmat bukan pembuat. Hasil cipta karsa dan rasa mereka terbelenggu oleh kondisi parahnya terkadang yang mengukung adalah sistem yang dibikin oleh pengambil kebijakan. Akhirnya mereka dijejali dengan teori teori yang sering kali tak dipahaminya lalu diujikan dengan kata kata standarisasi.
Ketika standarisasi itu diujikan serempak, sang gembalanya tidak lagi menjadi yang digugu dan ditiru. Gengsi lebih mengalahkan kepribadian, kelulusan dijadikan tolak ukur dengan mengabaikan cara cara yang ditempuh. Apalagi tekanan tekanan dari instansi naungannya yang tak mau mengerti dengan kondisi, kemampuan dan banyak aspek yang tentunya hanya pembimbingnya yang tau.
Permainan permainan kapal dari ilung mulai dilupakan tergantikan dengan konsep konsep  teoritis. Permainan permainan kapal dari ilung mulai tergantikan oleh mainan instan, hanya ikan yang diberikan kepada insinyur insinyur kecil kita mereka tak tahu kailnya dimana. Ketika saatnya itu dicuri oleh orang lain baru merasa kebakaran jenggot. Ketika populasi ikan mulai menipis kriminal merebak. Jangan salahkan mereka karena mereka dididik untuk menyuap bukan memancing. Mereka hanya tahu kata lulus tanpa malu baju yang dikenakan baju baju gurunya dibalik layar.

Putri Junjung Buih dan Negara

Dari masyarakat negara, penulis mengejar nama Negara atau Nagara untuk memenuhi hasrat keinginan tahu. Memang secara administratif saat ini lebih dikenal dengan nama Negara, lalu dari mana nama Nagara. Dari tetuha ( orang tua ) masyarakat didapat info nama sebenarnya Nagara, yang diambil dari kata Naga ada kaitannya dengan pusaran putri Junjung Buih.
Kalau ditelusur lebih lanjut berarti harus dimulai dari kisah putri Junjung Buih.  Keterjebakan dengan mitos masih banyak mewarnai kisah Junjung Buih yang nama sebenarnya Tunjung Buih. Kisah kisah yang tak masuk akal tentu membumbui mitos, namun penulis mencoba mencoba yang mendekati realistis.
Putri Junjung Buih hidup dimasa setelah Mpu Jatmika seorang saudagar dari Keling. Mpu Jatmika mencari tanah kehidupan baru bersama kedua anaknya bernama Lambung Mangkurat dan Mpu Mandastana. Setelah mendapatkan wilayah yang sesuai dengan keinginannya Mpu Jatmika mendirikan kerajaan Dipa dengan ibukota Kuripan. Kata kuripan dari kata kauripan yakni dari kata urip artinya hidup jadi kauripan artinya kehidupan. Karena tidak mau menjadi raja dengan alasan Mpu Jatmika bukan dari trah (darah/keturunan) raja, maka Mpu Jatmika hanya menjabat sebagai raja sementara. Keyakinan Mpu Jatmika banyak dipengaruhi dari agama Budha Siwa, bila bukan dari keturunan  raja maka akan ada bencana yang menimpanya, sebagai kutukan dari Tuhan.
Sebagai pengejawantahannya maka Mpu Jatmika membuat patung sebagai simbol raja, sekalipun roda pemerintahannya yang menjalankan tetap Mpu Jatmika. Berkat kearifannya kerajaan berkembang dengan pesat sehingga banyak wilayah yang dapat ditundukkan dibawah pimpinan Tumenggung Tatah Jiwa sebagai utusan dari Mpu Jatmika. Sehingga wilayahnya mencapai Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Petak, Batang Alai, Batang Amandit.
Kemakmuran negeri ini tersohor kemana mana, sehingga banyak mengundang para pedagang dari manca negara, terutama dari Johor, Cina, Aceh, Bugis, Makasar, Sumbawa, Jawa, Bali, Madura bahkan Makau.
Untuk mempertahankan keyakinannya Mpu Jatmika tidak rela kalau kedua anaknya menjadi raja bila ia mangkat. Setelah Mpu Jatmika wafat Lambung Mangkurat justru Balampah artinya bertapa untuk bersemedi mencari petunjuk dari Tuhan. Tapa brata Lambung Mangkurat dilaksanakan di subuah sungai. Dalam perjalanan tapanya itu tiba tiba air sungai membentuk pusaran yang kemudian berbuih dan bersinar lalu keluar seorang putri.Sang putri selanjutnya diberi nama Tunjung Buih dan sekarang dikenal dengan Junjung Buih.
Ada sebagian keyakinan sang putri adalah jelmaan Naga. Maka untuk mengenangnya nama tersebut dinamakan Naga dengan imbuhan ra, jadilah NAGARA..
Cerita yang lebih realistis putri Junjung Buih adalah putri Dayak yang hanyut, nantinya akan melahirkan kisah baru tentang kerajaan Banjar.

Selasa, 12 April 2011

Maunjun

Maunjun (memancing) menjadi aktifitas sore hari yang mengasyikkan. Bila di sungai sungai kecil biasanya yang menjadi sasaran adalah ikan papuyuh atau haruan, tetapi bila di sungai besar seperti di sungai Bahan (sekarang dikenal dengan sungai Negara) biasanya yang menjadi incaran adalah jenis ikan klabau, lampam, patin, nila, rio, sanggi atau sanggang.
 
 Di bawah pohon disepanjang sungai bila sore hari terlihat ramai mulai dari anak anak atau orang tua, tetapi ada sebagian lagi yang asyik meunjun di atas gerambang(keramba). Para pengunjun hafal betul dengan kondisi perubahan air sehingga mereka juga tahu jenis ikan apa yang ramai. Untuk itu mereka menyesuaikan unjunannya mulai dari mata kailnya, senar atau walesannya. Jadi untuk mengunjun papuyuh berbeda dengan untuk mengunjun klabau.
Sebagian masyarakat sudah membudidayakan ikan di gerambang (keramba), biasanya yang dibudidayakan ikan toman, nila, atau bawal. Ukuran keramba yang setandar 1.5mX1.25mX1m itu bisa menampung 500 sampai 1000 ekor ikan. Tentu sangat menguntungkan karena umpan bisa dicari berupa kelembuai (siput) atau ikan ikan kecil seperti sepat atau kangkung untuk bawal disamping umpat palet.
Para pengunjun lebih senang mengunjun dekat keramba karena aroma umpan dapat mengundang ikan ikan liar, tak heran bila mereka bisa mendapat hasil hingga satu kilo per ekornya untuk ikan klabau.

Kerajaan Daha Negara


Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha)yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan kira-kira sejaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Pusat pemerintahan/ibukota kerajaan ini berada di Muhara Hulak/kota Negara (kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan), sedangkan bandar perdagangan dipindahkan dari pelabuhan lama Muhara Rampiau (sekarang Marampiau) ke pelabuhan baru pada Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala).

Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang saat itu berkedudukan di Kuripan/Candi Agung, (sekarang kota Amuntai, Hulu Sungai Utara). Pemindahan ibukota dari Kuripan adalah untuk menghindari bala bencana karena dianggap sudah kehilangan tuahnya. Pusat pemerintahan dipindah ke arah hilir sungai Negara (sungai Bahan) menyebabkan nama kerajaan juga berubah sehingga disebut dengan nama yang baru sesuai letak ibukotanya yang ketiga ketika dipindahkan yaitu Kerajaan Negara Daha.

Raja Negara Daha

  1. Maharaja Sari Kaburangan/Raden Sakar Sungsang/Panji Agung Rama Nata/Ki Mas Lalana putera Putri Kalungsu, ratu terakhir Negara Dipa
  2. Maharaja Sukarama/Raden Paksa, kakek dari Sultan Suriansyah (Sultan Banjar I)
  3. Maharaja Pangeran Mangkubumi
  4. Maharaja Pangeran Tumenggung/Raden Panjang
Wilayah pengaruh kerajaan ini meliputi propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Islam datang ke daerah ini dari Giri diperkirakan di masa Maharaja Sari Kaburangan (Raden Sekar Sungsang) yang pernah merantau ke pulau Jawa dan disana telah memiliki anak bernama Raden Panji Sekar yang menikahi putri dari Sunan Giri kemudian bergelar Sunan Serabut. Tetapi Islam baru menjadi agama negara pada tahun 1526 di masa kekuasaan Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah). Aksara Arab-Melayu telah digunakan sebelum berdirinya Kesultanan Banjar.
Karena kemelut di Kuripan/Negara Dipa, beberapa tumenggung melarikan diri ke negeri Paser di perbatasan Kerajaan Kutai Kartanegara dan kemudian mendirikan Kerajaan Sadurangas di daerah tersebut.

Sabtu, 09 April 2011

MA PIP

Salah satu lembaga pendidikan yang ada di komplek Pondok Pesantren PIP Habirau adalah Madrasah Aliyah PIP.  Saat ini ada enam lokal kelas yang diperuntukkan untuk kelas satu dua lokal kelas dua juga dua lokal dan kelas tiga ada dua lokal juga. Jumlah murid yang tercatat sebanyak 147 siswa.terdiri dari 67 siswa dan 80 siswi, semuanya mengambil jurusan IPS, dibimbing oleh 20 guru.
Fasilitas yang dimiliki selain lokal dan kantor kepala sekolah juga kantor dewan guru terdapat laboratorium komputer yang saat ini menyelenggarakan kursus tersendiri dengan peserta didik non siswa Aliyah PIP sebanyak 174 peserta didik. Sebagai referensi anak didik terdapat perpustakaan dengan koleksi buku lebih banyak buku buku relegius. Untuk aktivitas kreatifitas siswa ada kantor OSIS tersendiri, ruang UKS, BP, Pramuka dan aula serba guna.
Madrasah PIP juga menyediakan asrama bagi siswa yang jauh diutamakan bagi anak yatim piatu atau miskin. Untuk meningkatkan akreditasi sekolah sedang dibangun dua lokal lagi. Untuk mewujudkan madrasah yang sehat dan bersih juga disediakan toilet bagi guru dan murid.
Berbagai prestasi sudah diukir, mulai olimpiade sain sampai tingkat propinsi, hingga prestasi ekstra kulikuler. Khusus  kegiatan pramuka Madrasah Aliyah PIP merupakan salah satu motor penggerak pergerakan pramuka di Negara. Ketika terjadi banjir pramuka PIP yang mempelopori gerakan peduli masyarakat dengan menyediakan jukung jukung penyebrangan agar aktivitas sekolah dan perkantoran tetap berjalan sebagai mana mestinya. Tak heran bila tanggal 5 April 2011 Madrasah Aliyah PIP menjadi tuan rumah temu pramuka se kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Kamis, 07 April 2011

PIP HABIRAU

 Pondok Pesantren Pendidikan Islam Parigi lebih dikenal dengan PIP terletak di desa Habiarau Tengah Daha Selatan. Keberadaannya membawa warna tersendiri bagi masyarakat setempat, terutama bidang pendidikan dan budaya.
Yayasan PIP menyelenggarakan pendidikan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ), Raudhatul Adfal ( RA ) atau TK, Ibtidaiyah, Tsanawiwah. Aliyah. Madrasatul Wustha, Madrasatul Ulya, Tahasus dan Tahfidhul Qur'an. Disamping juga menyelenggarakan pendidikan non formal berupa paket B dan paket C. Dan yang luar biasa setiap hari Rabu sore diselenggarakan majelis ta'lim yang mendatangkan kyai, tuan guru bahkan habaib. Majelis ta'lim ini disiarkan langsung melalui televisi kabel  milik pesantren ke desa desa sekitarnya. Tak heran pengunjungnya selalu melimpah baik masyarakat sekitar Negara atau kota kota lain.

 Pesantren ini sudah dirintis pendiriannya sejak tahun 1963 di anak desa Parigi, saat ini bernama Habirau Tengah oleh H Syamsuni bin H Ajat ( H Darjat ) bin H Abdul Rasyid, Sebagai pelopornya Al Mukarram KH Yahya bin H Asnawi, dengan mengadakan pengajian dari rumah ke rumah.
Beliau juga mengajar membaca dan menulis huruf Al qur'an di rumah, yang selanjutnya rumah tersebut menjadi cikal bakal berdirinya pesantren ini. Seiring bertambahnya santri yang belajar maka pelajarannya juga ditambah mulai dari sharaf, nahwu, fiqh dan tauhid dengan menggunakan risalah risalah kecil sebagai kitabnya, susunan KH Kasyful Anwar yang digunakan di Madrasah Daarussalam Martapura. Memang Pesantren ini berkiblat ke pesantren Daarussalam karena KH Syamsuni adalah alumnus pondok pesantren Daarussalam.

Sebagai sentral dari komplek pendidikan ini adalah masjid besar Al Ihya yang pembangunannya renovasinya sampai saat ini belum selesai. Masjid dua lantai ini sudah menelan biaya hampir 10 M yang didapat dari bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat.
Saat ini tokoh kharismatik pendiri Pondok Pesantren ini telah kembali ke Rahmatullah satu tahun yang lalu, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di lingkungan komplek pondok pesantren. Namun demikian tidak menyurutkan proses pembelajaran. Bahkan pembelajaran bahasa arab mulai diintensifkan dengan pembelajaran muhadharah, untuk melatih pidato, membaca berita, mc dan pengembangan kesenian islami lainnya